Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Monday, 20 August 2018

Denizli

"Hi, nice to meet you, sir! How are you?" ucap kami.
"Thank you" jawab beliau dengan raut wajah tidak ramah.
Perlahan kami memikirkan kembali kenapa keputusan kami untuk lebih mimilih ke Pamukkale dari Cappadocia.
Tentu trip ini akan menjadi sangat… menyenangkan.

001


Mari mundur ke beberapa waktu ke belakang.
Tepat setelah saya ditawan berjam-jam oleh pedagang karpet di Fatih.


Wednesday, 15 August 2018

Ottoman ii

Bekas kerajaan Ottoman sendiri masih berdiri di Fatih, sebuah distrik di İstanbul.
Daerah yang berisi ruang bawah tanah di setiap rumahnya, pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki, pemanfaatan transportasi umum yang tepat, dan yang paling akhir mental warga yang siap untuk menjadi daerah pariwisata.
Skor sementara: İstanbul 10, Denpasar 01.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi waktu İstanbul, kami masih jetlag.
Dan inilah catatan singkat kami tentang wisata sejarah Ottoman, İstanbul.

The Neighbourhood

Friday, 24 February 2017

Bali, 2017

Ini adalah kali ketiganya saya (turut) belajar mengapresiasi tanah kelahiran saya melalu apresiator-apresiastor baru dan kisah-kisah mereka.
"How do you see your Bali?"
Bagaimana kami menilai sesuatu dengan sewajarnya, dengan nalar, hati, dan pikiran.

Sabargita
Sabargita, sebuah esai foto oleh Ega Oxiana & Kirsty Hughes tentang ironi sebab-akibat enggannya penggunaan transportasi publik oleh masyarakat di Bali. All rights reserved


Thursday, 29 December 2016

Pramudito Siahaan

Sosok Dito saya ketahui 2 tahun lalu ketika saya menyatroni markas SWB.
First impression? Orangnya santai, agak sarkas.
2 tahun kemudian kami bertemu lagi setelah saya bergabung kembali dengan SWB.
Di luar olahraga, saya sering berbicara banyak dengan Dito (dan kawan-kawan).
Kami punya banyak kesamaan: orangnya bold, open minded, damaged, dan tetap: keras.

Dan di tahun ke-4, kali ini saya akan berbincang dengan Dito.
Sesuai tema rubrik ini: Bagaimana Anda Melihat Balimu?
Bersama Gilang dan Agung Dewi yang mendadak muncul, berikut obrolan kami.

Pramudito


Friday, 4 November 2016

12 Jam dari Rumah

Sudah berkali-kali saya mendengar kisah tentang pulau yang hanya saya dengar dari buku Sejarah dan buku Geografi: Pulau Ternate.
Miss Bernice banyak berkisah tentang keindahan dan kemegahan pulau itu yang membuat saya ingin berkunjung ke tempat itu.

Sha, Maret ke Ternate. Tolong foto konser kami".
Semesta maha mendengar, sahabat saya Man Angga tanpa ragu mengajak saya berangkat menuju ke Timur Laut Indonesia.
Dan di sini, petualangan 12-jam-dari-rumah kami jalani.

The Arrival

Tuesday, 10 November 2015

Rai Pendet

Suatu senja kami tidak sengaja bertemu di markas kami: Mangsi Coffee.
Perkenalkan, sahabat saya Rai Pendet, seorang filmmaker yang berhasil mencuri perhatian.
Gagasan, dan karya Rai bukan main bagusnya.

Setelah pulang dari Cina dan menyabet penghargaan, minggu ini Rai tiba di Bali untuk pulang kampung.
Break time? Not really.
Ada projek asik untuk tahun depan. Apa itu? Nanti dibahas deh.
Kini waktunya untuk menyimak diskusi di rubrik interview yang muncul hanya setahun sekali.

Rai


Saturday, 13 June 2015

Natah: Prelude

"How do you see your Bali?" tanya Marcia ke kelas malam itu.
Saya sendiri tidak tau apa tujuan saya di kelas ini.
Kelas malam, wajah asing — kecuali Krisna Sudarma tentunya.
Dan malam itu saya memaparkan ide saya tentang Bali dan potensinya.
Begini saya melihat Bali. Dan… malam itu saya belajar tentang sebuah apresiasi.
Bagaimana menilai sesuatu sewajarnya dengan nalar, hati, dan pikiran.


Memaknai Perjalanan

Friday, 16 May 2014

Creative City Bagian 2

Setelah menempuh jarak perjalanan yang singkat dari Nana, kami tiba di Emporium.
Thailand Creative & Design Center: sebuah hall besar yang isinya receptionist saja?
Salah besar. 



Tuesday, 20 November 2012

Sunday, 8 July 2012

Pindekan

Pindekan


The pindekan is a slender two-bladed propeller made of bamboo or the trunk of palm (usually called buah in Bali).
The blades of the propeller have a little twist to enable them to catch the wind.
The pindekan usually attached on the top of a long bamboo pole to enable the pindekan to get the stronger wind thus creating louder sound.


Ink on paper.
© 2012 Esha Satrya

Monday, 25 June 2012

Beleganjur

Beleganjur

Gamelan Beleganjur (also spelled balaganjur) is one of the most popular styles of gamelan music in Bali.
Its closest Western analogue is probably the Western military band.

Ink on paper • edited with Adobe Photoshop.
© 2012 Esha Satrya

Sunday, 25 March 2012

Pangerupukan

22 Maret 2012, sore itu saya memutuskan untuk berjalan kaki dari rumah menuju daerah Pasar Badung.
Dan tentu pilihan ini memberi pengalaman yang menarik. Tahun ini untuk ketiga kalinya saya diberi kesempatan untuk mengikuti 'ritual' Pangerupukan ini.
Ratusan banjar sudah siap untuk pawai ogoh-ogoh -- yang akan memporak-porandakan Denpasar.

Apa itu ritual Pangerupukan?
Ritual Pangerupukan dilakukan dalam rangka menyambut tahun baru çaka. Dimana pada keesokan hari-nya, seluruh warga tidak melakukan aktifitas seperti biasanya dan melakukan meditasi selama 36 jam penuh. Dan fungsi pangerupukan disini adalah untuk menenangkan Bhuta Kala agar tidak mengganggu ritual nyepi yang berlangsung keesokan harinya.
Hingga pada tahun 80an ritual Pangerupukan mulai diberi rasa baru yaitu pawai ogoh-ogoh. Ritual ini begitu dinanti oleh sebagian besar warga Bali maupun wisatawan asing sehingga terus berkembang hingga saat ini. Dari unsur bahan tradisional (bambu dan kertas koran) yang berkembang menjadi gabus hingga musik pengiring yang dari gamelan menjadi CD/Mp3 player musik koplo lengkap dengan speaker pemecah gendang telinga-nya.

:)


Wednesday, 5 October 2011

Bali 1906

Beruntung saya menemukan buku Bali Pada Abad XIX yang ditulis Ida Anak Agung Gde Agung pada tahun 1989 terbitan Universitas Gajah Mada. Sebuah buku hadiah dari penulis ketika *kakek saya pensiun dari kepolisian. Jangan harap saya membaca buku setebal hampir 900 halaman ini secara detail. Tapi jangan kira saya juga tidak membaca isi dari buku ini. Haha..

Bali, 1906. Dimana Belanda mulai mendarat di tanah Bali dan memulai perang. Tidak sesengit yang saya lihat. Adapun foto-foto seperti perang yang terfokus bersetting di Pemecutan (Denpasar), Kesiman (Denpasar), Tabanan dan Klungkung. Kelamnya Puri Denpasar ketika perang dan bangkitnya Bali + terpilihnya ke-delapan raja Bali. Visualisasi buku ini agak kelam.. dan sedikit merinding melihat foto-foto para Patih dan Raja-Raja Bali dimasa pra datangnya Belanda, mmm, wajah raja-raja Bali ketika era itu benar-benar metaksu. Oh ya, sebagian foto-foto dari buku ini dipajang di Jaya Sabha dalam ukuran besar. Dan..saya akan berpikir dua kali jika saya diundang ke Jaya Sabha.. (ampurayang titiang)

Ini sebagian dari foto-fotonya.
Enjoy!

Denpasar 1906
Kesiman, 1906

Panjer, 1906
Pemecutan, 1906

Sanur, 1906
Gianyar, 1906

 
Tabanan, 1906
Delapan Raja Bali, Singaraja 1906

*yang awalnya saya kira milik kompyang saya yang Arsitek di Puri Gianyar

Monday, 22 March 2010

24 & The Spirit: Save The Best for Last

Beberapa saat sebelumnya saya disibukan sebagai seorang nota-ris di acara perdana pameran kampus saya. Disaat yang sama saya menerima sms dari teman se-banjar saya: "kalo ga sibuk, kebanjar ya? bantu buat ogoh-ogoh" disaat itu saya berpikir "damn!! kenapa harus sekarang?? mana nota belum dihitungin nih!!"

Seiring waktu berjalan, pameran sukses kami lewati, walaupun kami harus menutupi hutang kami.. Tenaga pun drop, saya jatuh sakit.. kewajiban di banjar, masih tertunda.
Hingga tanggal 7 maret, saya datang untuk latihan ngangkat. Karena ogoh-ogoh kami masuk nominasi 7 terbaik. (good job!)

Sungguh bingung, secara saya tidak terlalu mengenal mereka semua.. Namun saya buang jauh pemikiran itu.. Selama 1 minggu latihan, waktunya tiba..

Senin, 15 maret.
jam 12, Siang hari.

Dengan berkumpul orang seadanya kami berangkat menuju puputan. Sukses membuat jalan Sumatera macet. Rasanya? panas dan sedikit melelahkan. But it doesn't matter.
:)

Senin, 15 maret.
Jam 3 Sore.

Saatnya telah tiba.. Kami berjalan dari banjar menuju lapangan.. whee.. sedikit tegang.. nervous.. pengen kencing.. intinya? tegang!

Nomor urut banjar kami adalah nomor 24. no.terakhir.. Detik-detik terakhir, datanglah babi bersaudara.. Entah datang dari mana saya tidak tahu.. one of them took my position and I have to moved to the front line.. dan saya tidak tahu koreo apa yang harus saya lakukan..

Matahari mulai tenggelam.. karya kami paling sederhana, sangat sederhana.. out of number.. tapi spirit kami luar biasa...saya ulang LUAR BIASA!



Dengan semangat 45, kami menabrak penonton yang dikiri dan dikanan.. alhasil? capek! tepuk tangan penonton.. dan menjadi headline di Radar Bali! haha good job! Sedikit ada masalah, ukuran karya kami yang luar biasa, membuat kami harus menabrak motor, dan membentur 5 mobil nissan secara berdereran.. cukup memuaskan, totally.. Dan disaat itu, saya sudah beradaptasi dengan lingkungan yang sangat baru bagi saya.. lingkungan yang nantinya saya jalani sampai mati.. mabraya di banjar..
:)