Saturday, 13 June 2015

Natah: Prelude

"How do you see your Bali?" tanya Marcia ke kelas malam itu.
Saya sendiri tidak tau apa tujuan saya di kelas ini.
Kelas malam, wajah asing — kecuali Krisna Sudarma tentunya.
Dan malam itu saya memaparkan ide saya tentang Bali dan potensinya.
Begini saya melihat Bali. Dan… malam itu saya belajar tentang sebuah apresiasi.
Bagaimana menilai sesuatu sewajarnya dengan nalar, hati, dan pikiran.


Memaknai Perjalanan

Saturday, 6 June 2015

Team

Tidak ada 'i' dalam 'team'. Benar adanya.
Sudah dua tahun, dan waktunya belajar untuk memimpin sebuah kelompok.
Sudah waktunya membuang paham lama yang sempat disindir Adit via Twitter.
Hahahaha.


Masbrooo-Communications



Sudah dua tahun saya menjadi mentor untuk calon Desainer-Desainer Komunikasi muda di Denpasar.
Pemahaman saya di sini adalah untuk berbagi, dan berhasil mencapai goal point bersama.
Tidak memaksa, tapi mengarahkan sampai tujuan. 

Tuesday, 26 May 2015

Positivity

Bulan belakangan sangat berkesan. Sangat, sangat, sangat berkesan.
Saya dibuat kecewa lagi, tapi kali ini saya lebih santai. Sudah terbiasa. Hahaha.
Walau sempat kehilangan arah, sekarang harus kembali ke track.
Beruntung saya masih punya orang-orang yang merangkul saya untuk berdiri tegak.
Aciya!

Setelah hampir dua tahun, akhirnya saat ini tiba. Tiba untuk memilih berdiri di mana.
Beruntung momentum depresif ini menjadi tamparan keras untuk pick a stand — fast.
Hi there, my precious. I'm home.

:)

Masbrooo, 2015

Sunday, 17 May 2015

Pinggan

Jauh hari Abé sudah berkabar via LINE® group chat untuk mengajak ke daerah tengah Bali.
Ke sebuah desa, pukul 3 pagi. Ada sesuatu yang dikejar.
Benar saja, kami akan menyambut matahari — dan mengejar kabut yang bersiap meninggalkan pagi.
Halo, Desa Pinggan.

Jadwal keberangkatan kami adalah pukul 2 pagi. Meeting point: McD Nangka.
Pukul 12 malam, diri masih terjaga. Excited? tidak, malas? setengah.
Hingga akhirnya memutuskan untuk berangkat karena grup chat yang ribut, tanpa tidur.

The Village

Monday, 4 May 2015

Arys & Ratih

Suatu malam di spot favorit saya: di dalam sebuah bar di Mangsi yang membuat orang mengira saya adalah supervisor di tempat itu.
Sibuk dengan deadline ini dan itu, akhirnya berpapasan dengan mbok Ratih yang akhirnya bertemu juga — minus Cece Wiwid, dan Dheden.

"Sha, apa kabar?" sahut mbok Ratih "Baik" balas saya. "Eh, aku suka foto-foto kamu…". "Pasti mau nikah" jawab saya dalam hati.
Dan… benar saja. Suatu Minggu yang serba mendadak kami melakukan foto sesi pra-nikah tanpa rencana.
Hahaha. Let's roll!


This Moment 🎶