Sudah 10 bulan aku berduka, aku tidak cukup kuat melawan dunia. Kini lebih sering berlindung dari rasa takut dengan bersembunyi di antara kenangan. Kurang lebih, begitulah hari-hariku: dipenuhi depresi ala Wanda Maximoff di WandaVision dan kata-kata Tulus dalam "Teh Hijau".
Tahap Pertama: Denial
Prediksi tentang hidupku ternyata meleset. Aku terlalu percaya diri, mengira semuanya akan berjalan semakin stabil. Hingga sepuluh bulan lalu, aku berdiri di hadapan jenazah bapak yang berselimut api. Air mata terus menetes, sementara rasa kuat itu perlahan hilang. Saat itu, aku hanya berharap semua ini hanyalah mimpi.
Tahap Kedua: Anger
Dalam amarah, aku berkali-kali bertanya kepada semesta: mengapa bukan orang-orang brengsek di sekitarku yang lebih dulu diambil? Aku juga terus mempertanyakan diriku sendiri, apa aku memang tidak pantas hidup bahagia?
Duka perlahan membutakanku. Tanpa kusadari, ia ikut melukai orang-orang yang masih bertahan di sekitarku. Sedikit demi sedikit, dunia yang kubangun terasa ikut hancur.
"FUCK YOU 2025!" Itulah yang kutulis di bio media sosialku.
Amarah akhirnya mereda, tetapi semuanya sudah telanjur terbakar. Ada hati yang terluka oleh dukaku. Kini yang tersisa hanyalah andaian… Seandainya waktu bisa diputar kembali, seandainya ada satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.
Sering manifestasi rasa sesal begitu nyata menyapa di dalam mimpi. Tak ada lagi tidur yang benar-benar nyenyak; yang ada hanyalah terbangun dengan mata basah. Maaf, penyesalan ini baru datang ketika semuanya telah hancur.
Tahap Keempat: Depresi
Mana Bapak? Mana Dahlan? Kamu kenapa pergi? Buku-buku baru? masih terbungkus rapi di rak. Film-film baru? kubiarkan berlalu, dan ajakan untuk bergaul? lebih sering tak kutanggapi. Aku masih berselimut kenangan, sibuk berandai hingga tak lagi menyisakan ruang untuk suka cita. Bahkan slogan "enak hidup di Bali" terasa tak berlaku lagi.
Sisa hidupku kini lebih banyak kuhabiskan untuk menemani seisi rumah yang kian menua. Sesekali, Indri dan Ogi datang untuk sekadar menyapa. Selebihnya, warga Piket Pagi di gym dan teman-teman Kesiman menjadi orang-orang yang tanpa banyak kata mewarnai ceria hari-hari depresiku.
Tahap kelima: Menerima
Dunia terus bergerak, sedangkan aku masih berteduh di ruang yang pernah kita bagi; sinar matahari senja yang menembus helikonia, kecupan lembut di keningku, dan pelukanmu hanyalah sebagian dari kehangatan yang kini tinggal kenangan.
Namun, bahkan duka pun perlu ditakar. Masih banyak hal yang harus kukejar, sebab dunia tak pernah berhenti berputar.
Masih banyak bekal baik yang kalian tinggalkan untuk membantuku menjalani hidup tanpa kalian. Walau kini terasa jauh lebih sepi, setidaknya hidup ini menjadi lebih tenang. Mungkin itulah cara kalian tetap tinggal: bukan lagi dalam wujud, melainkan dalam hal baik yang terus kubawa ke mana pun aku melangkah.
Thank you.






No comments:
Post a Comment