Friday, 30 January 2026

25/26

Bagian i: Desember 2025

Malam tahun baru terlewat begitu saja, saya pejamkan mata di ruang VIP rumah sakit tanpa orang terdekat. Sudah hari ke-4, tangan ini masih terpasang infus, dengan tenaga yang belum juga pulih. 

Tiada yang istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setelah apa yang saya lewati di 2025, optimis yang saya tabung sejak awal tahun, pelan tapi pasti, telah runtuh semua di hadapan waktu. Saya hancur, saya kalah.




Waktu menemukan tubuh kaku Bapak di pagi hari membuat waktu saya seolah terhenti. Tiada henti hingga hari ini, kepala saya tak pernah berhenti berandai-andai banyak kemungkinan agar peristiwa itu tidak terjadi. 

Hubungan asmara, pekerjaan, dan karier terdistraksi, semuanya tertutup oleh akhir yang tidak menyenangkan, bersamaan

Jadi, beginilah… sejak tiada guna larut dalam duka, akhir tahun saya habiskan dalam banyak diskusi dengan mamak dan Ade di rumah sakit. Kembali pulih dari berduka, pulang ke rumah untuk mereka yang masih ada.



Bagian ii: Januari 2026

30 hari saya menghilang dari pekerjaan dan pergaulan,  (yang mengetahui saya sakit hanya keluarga inti, Pak Adi, Bu Sandra, dan Ferri), 10 hari saya bergaul dengan staff rumah sakit yang menyebut saya mirip dengan Adrian Khalif. Dan di hari ke 30 ini, saya kembali ke realita dengan rutinitas yang menanti.

…tentu dengan sedikit penyesuaian.



Setelah semua yang saya lalui, dada ini masih terasa berat. Saya masih berdoa agar bisa menemukan kembali Dahlan yang hilang. Hingga detik ini, saya masih menatap ke lantai dua rumah, mengenang interaksi dengan lima anak kucing liar yang saya pelihara—yang kini telah tiada semuanya karena infeksi virus.

Walau telah membaca The Art of Thinking Clearly, saya ternyata masih naif. Naif terhadap hal-hal positif yang dulu saya tanamkan dalam diri, di masa-masa sulit yang saya lalui sendiri beberapa tahun lalu. Toh, karena dengan itu saya bisa bertahan sampai sekarang.

Kini, rasa sulit bukan hal yang membuat saya takut. Anak berusia 25 tahun yang dulu dirundung masalah oleh orang-orang bermasalah kini telah dewasa. Di usia 38, walau masih terseok melangkah, langkah itu kini lebih terarah. Walau senyum tak selebar dulu, dada kini lebih lapang—harfiah dan literal.

Ternyata, beginilah rasanya tumbuh berbekal cinta.
Bekal yang diberikan oleh orang-orang yang saya temui di perjalanan, di luar rumah.

Januari segera berakhir, berat badan masih belum juga kembali normal. Saatnya mengisi diri dengan banyak asupan, karena jalan di depan kini mulai diperlihatkan dengan lebih cemerlang.





Anyway, selamat tahun baru.

2 comments:

  1. “…..pulang ke rumah untuk mereka yg masih ada.” Terimakasih sudah menulis bagian ini dengan sangat hangat.

    ReplyDelete
  2. Pulang tidak pernah melihat momen, kalau pulang sudah menjadi jalan, maka pasti akan terjadi. Ketika rehat telahpun usai, maka jadikanlah masa pulang sebagai pegangan untuk terbang kembali.

    ReplyDelete